IKaeN.id, MALINAU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malinau merilis Malinau Dalam Angka 2026 sekaligus capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2025 dalam kegiatan press release yang digelar, Selasa (31/3/2026).
Kepala BPS Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, menyampaikan bahwa berbagai indikator pembangunan daerah menunjukkan tren yang cukup positif, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.
Salah satu capaian penting terlihat dari penurunan angka kemiskinan. Pada tahun 2025, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Malinau tercatat sebanyak 5,24 ribu jiwa atau 5,56 persen. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, baik dari sisi jumlah maupun persentase.
“Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya di Kantor BPS Kabupaten Malinau.
Dari sisi ketimpangan, Gini Ratio Malinau juga mengalami penurunan menjadi 0,249 pada tahun 2025. Hal ini mengindikasikan distribusi masyarakat yang semakin merata.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2025 tercatat sebesar 3,42 persen. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara umum menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang relatif stabil, bahkan mendekati kondisi full employment.
Di sektor pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Malinau terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2025, IPM mencapai 75,21 dan masih berada dalam kategori tinggi.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Malinau pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,56 persen. Namun jika tidak memasukkan sektor batu bara, pertumbuhan ekonomi justru mencapai 7,35 persen, menunjukkan sektor non-tambang mulai berkembang lebih kuat.
Struktur ekonomi Malinau sendiri masih didominasi oleh tiga sektor utama, yakni pertambangan, konstruksi, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Meski demikian, sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi mengalami perlambatan, bahkan tercatat mengalami kontraksi pada tahun 2025. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan produksi batu bara dan kondisi operasional di lapangan.
Sebaliknya, sektor konstruksi menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga 21,42 persen. Peningkatan ini didorong oleh tingginya realisasi investasi serta pembangunan infrastruktur, termasuk proyek strategis nasional.
Selain itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap tumbuh positif, didukung oleh peningkatan produksi di berbagai subsektor.
“Melalui berbagai data yang dirilis, kami harapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menyusun kebijakan serta strategi pembangunan menuju Malinau yang lebih maju,” katanya. (AF)





